Ketika daerah lain melazimkan pemekaran
dengan niat memudahkan dan menyangkilkan urusan warga, Desa Je’ne Taesa
justru tidak tertarik tersebab adat-istiadat yang dipegang teguh selama
ini oleh warganya. Kalau selama ini kumpulan kelelawar yang bertengger
di sekitar pemukiman warga hanya dikenal di Kabupaten Soppeng, komunitas
kelelawar yang dijaga oleh warga juga bisa kita temui di Dusun
Batubassi.
Desa ini merupakan desa yang berbatasan langsung dengan Desa Wisata
Samangki, kelelawar dan seni-budaya yang ada di desa ini merupakan
salah satu objek wisata yang tak kalah menariknya untuk
dikunjungi. Setiap selesai panen musim hujan, sekitar Mei saban tahun,
Je’ne Taesa yang berpenghuni 3200-an jiwa, dengan jumlah 859 kepala
keluarga yang menghuni Dusun Batu Bassi dan Dusun Bantimurung, menggelar
upacara adat Mappadendang.
Je’ne Taesa kerap mendapat kunjungan para
peneliti satwa karena di sana berkembang biak kelelawar. Binatang
menyusui ini hidup tenteram berdampingan dengan warga desa, bahkan bisa
dibilang saling menjaga. Warga desa meyakini, kelelawar yang
bergantungan di pepohonan desa itu sebagai tanda bahwa daerah mereka
aman.
Kehadiran kelelawar ini awalnya
didatangkan oleh Daeng Pewata, dengan cerita magis yang melingkupinya.
Daeng Pewata adalah seorang tetua warga bernama lengkap H Kamaruddin
Daeng Pewata. Warga desa sangat menghormatinya.
Jika ribuan kelelawar itu meninggalkan
tempatnya, alamat ada bencana yang akan melanda desa ini. Karena itu
warga sekitar tak pernah mengganggu. Bahkan untuk memotretnya pun harus
meminta izin ke kepala desa, tetua warga, atau aparat desa lain, dengan
menyetor sejumlah uang untuk mengisi kas desa.
Sepasang kelelawar pun Daeng Pewata bawa
pulang. Sejoli kelelawar tadi Daeng Pewata biakkan dalam kurungan. Dari
sepasang menjadi lima ekor, menjadi lima belas, sampai dua puluh ekor.
Lantaran repotnya menangani dua puluh ekor dalam kurungan, Daeng Pewata
memutuskan melepasnya.
Menurut Daeng Pewata, pada sekitar akhir
1970-an, dirinya bermimpi didatangi tiga lelaki tua bersorban. Ketiganya
berpesan agar Daeng Pewata menuju Pangkep (kabupaten di sebelah utara
Maros) membeli kelelawar sebagai ‘penjaga’ desa. Keesokan hari, ia ke
Pangkep sesuai pesan dalam mimpinya. Di sana ia bertemu truk pengangkut
dari Polmas, yang memang sesekali membawa kelelawar untuk dijual di
Makassar.
Untuk partisipasi warga menjaga kelelawar
ini, lembaga internasional perlindungan kelelawar, Bat Consertvation
Internasional pernah memberi desa ini penghargaan. Dari 62 spesies
kelelawar yang ada, 3 diantaranya berhasil ditangkarkan warga dan
berkembang biak di perkampungan sekitar warga.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar